Mengenal Gizi Sejak Dini: Antusiasme Siswa MTs NU 02 Batang Mengikuti Pengukuran Antropometri dan Edukasi Gizi
Batang, 18 Juni 2026 – Suasana kelas di MTs NU 02 Batang
pagi itu tampak sedikit berbeda dari biasanya. Di depan kelas telah tersedia
timbangan, microtoise, pita ukur Lingkar Lengan Atas (LILA), serta beberapa
lembar formulir pencatatan. Kehadiran kami sebagai mahasiswa Program Studi
Kesehatan Masyarakat Universitas Pekalongan langsung menarik perhatian para
siswa. Mereka tampak penasaran dengan kegiatan yang akan dilakukan. Beberapa
siswa bahkan saling bercanda sambil menebak tinggi dan berat badan temannya.
Antusiasme tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih hidup sejak kegiatan
dimulai.
Kegiatan ini merupakan bagian dari
pembelajaran lapangan mata kuliah Penentuan Status Gizi yang bertujuan
memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa sekaligus mengenalkan
pentingnya menjaga status gizi kepada remaja. Selain melakukan pengukuran antropometri,
kami juga memberikan edukasi mengenai gizi remaja agar para siswa memahami
pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Kami berharap kegiatan
sederhana ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga mampu menambah
pengetahuan siswa mengenai kesehatan.
Sebelum pengukuran dimulai, kami
mengajak siswa berdiskusi mengenai kebiasaan sarapan, pentingnya mengonsumsi
makanan bergizi seimbang, memilih jajanan yang lebih sehat, serta pentingnya
aktivitas fisik di tengah kebiasaan remaja yang semakin akrab dengan penggunaan
gawai. Suasana edukasi berlangsung interaktif. Banyak siswa yang aktif menjawab
pertanyaan maupun menceritakan kebiasaan mereka sehari-hari. Melalui diskusi
sederhana tersebut, kami melihat bahwa sebenarnya remaja memiliki rasa ingin
tahu yang tinggi mengenai kesehatan, hanya saja mereka membutuhkan informasi
yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Setelah sesi edukasi, kegiatan
dilanjutkan dengan pengukuran antropometri terhadap 25 siswa berusia 14–15
tahun yang terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Pengukuran
dilakukan sesuai prosedur menggunakan timbangan untuk mengukur berat badan,
microtoise untuk mengukur tinggi badan, serta pita LILA untuk mengukur lingkar
lengan atas. Data yang diperoleh kemudian dihitung menggunakan Indeks Massa Tubuh
menurut Umur (IMT/U) berdasarkan standar antropometri Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia sebagai dasar untuk mengetahui status gizi masing-masing
siswa.
Hasil pengukuran menunjukkan kabar
yang cukup menggembirakan. Sebanyak 20 siswa atau 80 persen memiliki status
gizi normal sesuai usianya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar
siswa telah memiliki kondisi pertumbuhan yang baik. Namun demikian, masih
terdapat lima siswa yang memerlukan perhatian lebih, yaitu satu siswa (4
persen) dengan status gizi kurus, dua siswa (8 persen) berkategori gemuk, dan
dua siswa lainnya (8 persen) mengalami obesitas. Temuan ini memperlihatkan
bahwa sekitar satu dari lima siswa masih menghadapi permasalahan gizi yang
perlu mendapatkan perhatian bersama.
Jika diperhatikan lebih jauh,
masalah yang muncul justru lebih banyak berasal dari kelompok kelebihan gizi
dibandingkan kekurangan gizi. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola
permasalahan gizi pada remaja. Saat ini, tantangan tidak lagi hanya berkaitan
dengan anak yang memiliki berat badan kurang, tetapi juga meningkatnya kasus
gemuk dan obesitas. Apabila tidak dicegah sejak dini, kelebihan berat badan
pada remaja dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti
diabetes melitus tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung pada masa dewasa.
Berbagai faktor diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Pola makan yang kurang teratur, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, serta lemak, rendahnya aktivitas fisik, hingga meningkatnya penggunaan gawai menjadi beberapa penyebab yang banyak dijumpai pada remaja saat ini. Di sisi lain, masih ada remaja yang membatasi makan secara berlebihan karena ingin memiliki bentuk tubuh tertentu. Padahal, menjaga status gizi bukan berarti harus memiliki tubuh yang kurus ataupun gemuk, melainkan memiliki tubuh yang sehat sesuai kebutuhan gizi pada usianya.
Melalui kegiatan ini, kami menyadari
bahwa pengukuran antropometri bukan sekadar mencatat angka berat badan dan
tinggi badan. Setiap hasil pengukuran memberikan gambaran mengenai kondisi
kesehatan remaja yang dapat menjadi dasar untuk melakukan upaya pencegahan
lebih awal. Begitu pula dengan edukasi yang diberikan, meskipun berlangsung
dalam waktu yang singkat, diharapkan mampu meningkatkan kesadaran siswa
mengenai pentingnya menerapkan pola makan bergizi seimbang, rutin beraktivitas
fisik, serta menjaga kesehatan sebagai bekal menuju masa depan yang lebih baik.
Kegiatan ini juga menjadi pengingat
bahwa menjaga status gizi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan.
Sekolah memiliki peran penting melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS),
penyediaan kantin yang lebih sehat, serta pemantauan status gizi secara
berkala. Orang tua pun memiliki peran besar dalam membiasakan anak mengonsumsi
makanan bergizi dan menerapkan pola hidup sehat di rumah. Kolaborasi antara
sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan peserta didik menjadi kunci dalam
menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.
Bagi kami sebagai mahasiswa,
kegiatan di MTs NU 02 Batang bukan sekadar memenuhi tugas perkuliahan.
Pengalaman berinteraksi langsung dengan para siswa memberikan pemahaman bahwa
edukasi kesehatan akan lebih bermakna ketika dilakukan secara langsung dan melibatkan
peserta secara aktif. Antusiasme yang ditunjukkan para siswa selama mengikuti
pengukuran maupun sesi edukasi menjadi semangat bagi kami untuk terus
berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya
menjaga kesehatan sejak usia remaja.
Semoga kegiatan sederhana ini dapat
menjadi langkah awal dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan sekolah.
Sebab, remaja yang memahami pentingnya gizi seimbang hari ini akan tumbuh
menjadi generasi yang lebih sehat, produktif, dan mampu menghadapi tantangan masa
depan dengan kualitas hidup yang lebih baik.
Artikel ini disusun
berdasarkan hasil kegiatan pengukuran status gizi antropometri pada 25 siswa
MTs NU 02 Batang yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan
Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pekalongan pada 18 Juni 2026.