Esai

Mengenal Gizi Sejak Dini: Antusiasme Siswa MTs NU 02 Batang Mengikuti Pengukuran Antropometri dan Edukasi Gizi

InfoBatang
08 Jul 2026
16:47 WIB
12
Mengenal Gizi Sejak Dini: Antusiasme Siswa MTs NU 02 Batang Mengikuti Pengukuran Antropometri dan Edukasi Gizi

 

Batang, 18 Juni 2026 – Suasana kelas di MTs NU 02 Batang pagi itu tampak sedikit berbeda dari biasanya. Di depan kelas telah tersedia timbangan, microtoise, pita ukur Lingkar Lengan Atas (LILA), serta beberapa lembar formulir pencatatan. Kehadiran kami sebagai mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Pekalongan langsung menarik perhatian para siswa. Mereka tampak penasaran dengan kegiatan yang akan dilakukan. Beberapa siswa bahkan saling bercanda sambil menebak tinggi dan berat badan temannya. Antusiasme tersebut membuat suasana kelas menjadi lebih hidup sejak kegiatan dimulai.

 

Kegiatan ini merupakan bagian dari pembelajaran lapangan mata kuliah Penentuan Status Gizi yang bertujuan memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa sekaligus mengenalkan pentingnya menjaga status gizi kepada remaja. Selain melakukan pengukuran antropometri, kami juga memberikan edukasi mengenai gizi remaja agar para siswa memahami pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Kami berharap kegiatan sederhana ini tidak hanya menghasilkan data, tetapi juga mampu menambah pengetahuan siswa mengenai kesehatan.

 

Sebelum pengukuran dimulai, kami mengajak siswa berdiskusi mengenai kebiasaan sarapan, pentingnya mengonsumsi makanan bergizi seimbang, memilih jajanan yang lebih sehat, serta pentingnya aktivitas fisik di tengah kebiasaan remaja yang semakin akrab dengan penggunaan gawai. Suasana edukasi berlangsung interaktif. Banyak siswa yang aktif menjawab pertanyaan maupun menceritakan kebiasaan mereka sehari-hari. Melalui diskusi sederhana tersebut, kami melihat bahwa sebenarnya remaja memiliki rasa ingin tahu yang tinggi mengenai kesehatan, hanya saja mereka membutuhkan informasi yang mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

 

Setelah sesi edukasi, kegiatan dilanjutkan dengan pengukuran antropometri terhadap 25 siswa berusia 14–15 tahun yang terdiri atas 15 siswa laki-laki dan 10 siswa perempuan. Pengukuran dilakukan sesuai prosedur menggunakan timbangan untuk mengukur berat badan, microtoise untuk mengukur tinggi badan, serta pita LILA untuk mengukur lingkar lengan atas. Data yang diperoleh kemudian dihitung menggunakan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) berdasarkan standar antropometri Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebagai dasar untuk mengetahui status gizi masing-masing siswa.

 

Hasil pengukuran menunjukkan kabar yang cukup menggembirakan. Sebanyak 20 siswa atau 80 persen memiliki status gizi normal sesuai usianya. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar siswa telah memiliki kondisi pertumbuhan yang baik. Namun demikian, masih terdapat lima siswa yang memerlukan perhatian lebih, yaitu satu siswa (4 persen) dengan status gizi kurus, dua siswa (8 persen) berkategori gemuk, dan dua siswa lainnya (8 persen) mengalami obesitas. Temuan ini memperlihatkan bahwa sekitar satu dari lima siswa masih menghadapi permasalahan gizi yang perlu mendapatkan perhatian bersama.

 

Jika diperhatikan lebih jauh, masalah yang muncul justru lebih banyak berasal dari kelompok kelebihan gizi dibandingkan kekurangan gizi. Kondisi ini menunjukkan adanya perubahan pola permasalahan gizi pada remaja. Saat ini, tantangan tidak lagi hanya berkaitan dengan anak yang memiliki berat badan kurang, tetapi juga meningkatnya kasus gemuk dan obesitas. Apabila tidak dicegah sejak dini, kelebihan berat badan pada remaja dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, hingga penyakit jantung pada masa dewasa.

 

Berbagai faktor diduga berkontribusi terhadap kondisi tersebut. Pola makan yang kurang teratur, kebiasaan mengonsumsi makanan dan minuman tinggi gula, garam, serta lemak, rendahnya aktivitas fisik, hingga meningkatnya penggunaan gawai menjadi beberapa penyebab yang banyak dijumpai pada remaja saat ini. Di sisi lain, masih ada remaja yang membatasi makan secara berlebihan karena ingin memiliki bentuk tubuh tertentu. Padahal, menjaga status gizi bukan berarti harus memiliki tubuh yang kurus ataupun gemuk, melainkan memiliki tubuh yang sehat sesuai kebutuhan gizi pada usianya.

 

Melalui kegiatan ini, kami menyadari bahwa pengukuran antropometri bukan sekadar mencatat angka berat badan dan tinggi badan. Setiap hasil pengukuran memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan remaja yang dapat menjadi dasar untuk melakukan upaya pencegahan lebih awal. Begitu pula dengan edukasi yang diberikan, meskipun berlangsung dalam waktu yang singkat, diharapkan mampu meningkatkan kesadaran siswa mengenai pentingnya menerapkan pola makan bergizi seimbang, rutin beraktivitas fisik, serta menjaga kesehatan sebagai bekal menuju masa depan yang lebih baik.

 

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa menjaga status gizi bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Sekolah memiliki peran penting melalui program Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), penyediaan kantin yang lebih sehat, serta pemantauan status gizi secara berkala. Orang tua pun memiliki peran besar dalam membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi dan menerapkan pola hidup sehat di rumah. Kolaborasi antara sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan peserta didik menjadi kunci dalam menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

 

Bagi kami sebagai mahasiswa, kegiatan di MTs NU 02 Batang bukan sekadar memenuhi tugas perkuliahan. Pengalaman berinteraksi langsung dengan para siswa memberikan pemahaman bahwa edukasi kesehatan akan lebih bermakna ketika dilakukan secara langsung dan melibatkan peserta secara aktif. Antusiasme yang ditunjukkan para siswa selama mengikuti pengukuran maupun sesi edukasi menjadi semangat bagi kami untuk terus berkontribusi dalam meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja.

 

Semoga kegiatan sederhana ini dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya hidup sehat di lingkungan sekolah. Sebab, remaja yang memahami pentingnya gizi seimbang hari ini akan tumbuh menjadi generasi yang lebih sehat, produktif, dan mampu menghadapi tantangan masa depan dengan kualitas hidup yang lebih baik.

 

Artikel ini disusun berdasarkan hasil kegiatan pengukuran status gizi antropometri pada 25 siswa MTs NU 02 Batang yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Pekalongan pada 18 Juni 2026.

Bagikan:

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. * wajib diisi

Semua Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!