Esai

Empat tahun menjadi buruh : merawat harapan ditengah upah murah dan demokrasi yang menyempit

InfoBatang
17 Jun 2026
07:03 WIB
21
Empat tahun menjadi buruh : merawat harapan ditengah upah murah dan demokrasi yang menyempit

Empat tahun sudah saya bertahan sebagai buruh di sebuah kabupaten yang berada di jantung aktivitas ekonomi, tetapi nyaris tak pernah diperhitungkan dalam percaturan ekonomi-politik nasional. di tempat ini, kami bekerja dengan upah yang pas-pasan, jam kerja yang panjang, dan tak jarang lembur yang tak dihargai sebagaimana mestinya.


Namun saya memilih bertahan. Bukan karena keadaan yang ideal, melainkan karena masih ada satu harapan: terlibat dalam upaya merebut ruang kesadaran, membangun kesadaran politik kaum muda, dan menyalakan keberanian untuk berpikir tentang masa depan bersama.


Kami memulai semuanya dari titik minus. Tanpa modal besar, tanpa fasilitas mewah, tanpa dukungan kekuasaan. Sedikit demi sedikit kami berjalan. Mungkin keberhasilannya baru 0,1 persen, tetapi setiap langkah kecil adalah bukti bahwa harapan belum sepenuhnya mati.


Saya teringat kata-kata Pramoedya Ananta Toer, 'Seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan.' Bagi kami, menjadi muda bukan sekadar soal usia, tetapi keberanian untuk tetap berpikir kritis ketika banyak orang memilih diam.


Hari ini, kehidupan buruh semakin tercekik. Harga beras naik, kebutuhan pokok terus merangkak naik, biaya pendidikan dan kesehatan semakin mahal, sementara upah berjalan tertatih mengejar laju kebutuhan hidup. Setiap bulan kami dipaksa berhitung antara kebutuhan dapur, biaya keluarga, dan harapan untuk masa depan.


Yang menyakitkan, di tengah kondisi itu negara sering kali tampak lebih sibuk mengurus angka-angka pertumbuhan ekonomi daripada memastikan hasil pertumbuhan tersebut benar-benar dirasakan oleh rakyat yang bekerja. Pertumbuhan dipuji, investasi dibanggakan, kawasan industri diperluas, tetapi kesejahteraan buruh masih menjadi janji yang berulang kali diucapkan dan berulang kali pula ditunda.


Pemerintah daerah pun perlu bercermin. Pembangunan tidak cukup diukur dari banyaknya pabrik berdiri atau besarnya nilai investasi yang masuk. Pembangunan harus diukur dari apakah para pekerja dapat hidup layak, apakah anak-anak buruh memiliki masa depan yang lebih baik, dan apakah ruang demokrasi bagi kaum muda untuk bersuara terus dijaga.


Sebab sebuah daerah tidak akan benar-benar maju apabila pertumbuhan ekonominya dibangun di atas kelelahan para buruh, upah murah, dan suara rakyat yang tidak didengar.


Mungkin perjuangan kami masih kecil. Mungkin keberhasilannya baru 0,1 persen. Tetapi sejarah selalu bergerak dari orang-orang yang memilih bertahan, berpikir, dan terus berjuang ketika banyak yang menyerah.

Bagikan:

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. * wajib diisi

Semua Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!