Mengubah Lahan Kosong Jadi Apotek Hidup: Kisah Mahasiswa KKN UIN Walisongo Menanam TOGA di Desa Dlisen
Desa Dlisen, Limpung, Batang – Dalam rangka mendukung program kesehatan berbasis keluarga dan pelestarian tanaman herbal, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT-21 UIN Walisongo Semarang melaksanakan kegiatan penanaman Tanaman Obat Keluarga (TOGA) di lahan terbuka yang berlokasi di sebelah barat Lapangan Desa Dlisen, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, pada Senin (23/2/2026). Kegiatan ini diikuti oleh mahasiswa KKN.
Penanaman TOGA ini merupakan salah satu program kerja mahasiswa KKN yang bertujuan untuk menghadirkan sumber daya tanaman obat yang dapat dimanfaatkan oleh warga dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk pengobatan tradisional maupun sebagai bahan baku jamu dan bumbu dapur. Lahan yang digunakan merupakan tanah kas desa yang difungsikan sebagai area penghijauan dan edukasi warga. Sebanyak 8 jenis bibit tanaman dalam kegiatan ini, yaitu: Jahe, Kencur, Kunir Merah, Kunir Hitam, Serai Merah, Lidah Buaya, Rosella dan Kunyit Hitam.
Pemilihan jenis tanaman didasarkan pada manfaat kesehatan yang dimiliki serta kemudahan dalam perawatan dan pemanfaatannya oleh masyarakat. Tanaman seperti jahe, kencur, dan kunir dikenal luas sebagai bahan rempah dan jamu tradisional, sementara lidah buaya dan rosella memiliki khasiat untuk kesehatan kulit dan antioksidan. Kunyit hitam dan kunir hitam dipilih karena khasiatnya yang mulai banyak diteliti sebagai tanaman herbal berkhasiat tinggi.
Kegiatan diawali dengan koordinasi bersama perangkat desa, dilanjutkan dengan persiapan lahan, pembuatan lubang tanam, dan penanaman bibit secara gotong royong. Mahasiswa KKN bekerja sama menyiram dan memberi pupuk dasar agar tanaman dapat tumbuh optimal.
Kepala Desa Dlisen, Bapak Hadi, menyampaikan apresiasi atas inisiatif mahasiswa KKN dalam menghadirkan program TOGA ini. "Kami sangat berterima kasih kepada adik-adik KKN yang telah memilih dan menanam berbagai bibit tanaman obat di desa kami. Semoga tanaman ini dapat tumbuh subur dan bermanfaat bagi warga, terutama sebagai alternatif pengobatan keluarga yang murah dan mudah didapat," ujarnya.
Salah satu mahasiswa KKN UIN Walisongo selaku koordinator devisi kesehatan lingkungan menyampaikan bahwa program ini diharapkan dapat berkelanjutan dan dirawat bersama oleh warga. "Kami berharap lahan TOGA ini tidak hanya menjadi simbol, tetapi benar-benar dimanfaatkan. Untuk itu, kami juga telah berkoordinasi dengan kelompok ibu-ibu PKK agar nantinya bisa merawat dan memanen hasilnya secara rutin," jelasnya.
Selain penanaman, mahasiswa KKN juga memberikan edukasi singkat mengenai manfaat masing-masing tanaman obat serta cara pengolahannya menjadi ramuan sederhana yang dapat dikonsumsi sehari-hari. Edukasi ini disambut antusias oleh warga, terutama ibu-ibu yang hadir.
Melalui kegiatan penanaman TOGA ini, mahasiswa KKN MIT-21 UIN Walisongo berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan kemandirian kesehatan masyarakat berbasis kearifan lokal, sekaligus memperkuat ketahanan keluarga melalui pemanfaatan tanaman obat di lingkungan sekitar.