Pendidikan

Dukung SDGs 12, Mahasiswa KKN Undip Latih Warga Tumbrep Olah Limbah Tekstil

InfoBatang
18 Aug 2026
14:58 WIB
21
Dukung SDGs 12, Mahasiswa KKN Undip Latih Warga Tumbrep Olah Limbah Tekstil

Sebagai kawasan yang dekat dengan Kota Batik, Batang memiliki konsumsi limbah kain yang cukup besar. Seperti yang terjadi di Dukuh Tembelang, Desa Tumbrep, potongan-potongan kain dari produksi pakaian sering berakhir dibuang atau dibakar ketika sudah tidak digunakan. Melihat hal ini, Tim KKN-T IDBU 69 2026 Universitas Diponegoro memanfaatkan fenomena tersebut sebagai peluang.


Gagasan tersebut kemudian menjadi awal dari program pengolahan limbah kain majun menjadi berbagai kreasi bernilai guna. Berangkat dari persoalan yang ditemukan di lingkungan sekitar, tim KKN mencoba melihat bahwa limbah bukanlah sesuatu yang dapat langsung disingkirkan tetapi juga sebuah material yang dapat dimanfaatkan. Program ini turut mendukung Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-11 yaitu Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production). Kesadaran akan dampak limbah tekstil menjadi hal yang penting, terutama karena bahaya mikroplastik dari bahan sintetis yang dibuang sembarangan bisa perlahan mencemari air dan sumber makanan. Maka dari itu, mendaur ulang kain majun menjadi kreasi sederhana dapat diadopsi oleh masyarakat sebagai peluang usaha, sekaligus bentuk kepedulian terhadap bumi kita. 

Langkah awal dilakukan dengan mendatangi sejumlah pemilik konveksi di Dukuh Tembelang. Tim berdiskusi dan menggali kemungkinan apakah limbah majun yang dihasilkan dari proses produksi dapat dikembangkan menjadi produk kerajinan. Namun, percobaan pertama tidak langsung berjalan seperti yang dibayangkan. Kesibukan produksi membuat para pemilik konveksi belum memiliki cukup waktu untuk mengolah kembali potongan kain tersebut. Bagi mereka, pekerjaan utama tetaplah menjahit dan memenuhi pesanan. 

Berangkat dari hal tersebut, tim menyadari bahwa solusi yang baik bukan hanya tentang menemukan apa yang dapat dibuat dari majun, tetapi juga siapa yang dapat melanjutkannya. Perhatian kemudian diarahkan kepada ibu-ibu rumah tangga yang memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan kegiatan kreatif di sela aktivitas sehari-hari. Harapannya, keterampilan yang diperkenalkan tidak berhenti sebagai kegiatan selama KKN berlangsung, tetapi dapat menjadi salah satu alternatif aktivitas produktif yang masih mungkin dikembangkan setelah mahasiswa meninggalkan desa. 

Dalam prosesnya, limbah majun diperkenalkan melalui berbagai bentuk kreasi sederhana. Potongan kain dapat diolah menjadi tatakan gelas, gantungan kunci, pouch, taplak meja, hingga keset. Tidak berhenti pada produk fungsional, majun juga dapat dipadukan menjadi karya yang lebih artistik seperti lukisan berbahan kain. Perbedaan warna, tekstur, ukuran, dan bentuk potongan justru menjadi bagian dari kreativitas dalam menghasilkan setiap karya. 

Lebih dari sekadar menghasilkan barang, kegiatan ini juga menciptakan ruang pertemuan antara masyarakat dan mahasiswa KKN. Jum’at (7/8/2026) diadakan sosialisasi edukasi dan workshope pengolahan limbah kain majun yang memberi kesempatan bagi keduanya untuk belajar dan berinteraksi secara lebih dekat. Hal tersebut juga menjadi salah satu alasan kegiatan ini meninggalkan kesan bagi warga. ”Bagi Saya, Sosialisasi dan workshop kain majun itu yang paling berkesan”, ucap Bu Saleha, salah satu warga RT 04 Dusun Tembelang Desa Tumbrep. Selain menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat secara langsung, kegiatan tersebut juga memberikan pengalaman baru dan membuat interaksi antara warga dengan mahasiswa terasa lebih intens.



Melalui kegiatan ini, limbah yang sebelumnya dianggap tidak memiliki nilai mulai diperkenalkan dari sudut pandang yang berbeda. Potongan kain yang semula hanya menjadi sisa produksi dapat memiliki fungsi baru, nilai estetika, bahkan peluang untuk dikembangkan menjadi produk UMKM. Meskipun satu kegiatan KKN tentu tidak dapat langsung menyelesaikan persoalan limbah tekstil secara keseluruhan, langkah kecil ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat berjalan beriringan dengan kreativitas dan pemberdayaan masyarakat. Karena pada akhirnya, perubahan tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Perubahan hadir dari sebuah keinginan, dalam hal ini berarti keinginan untuk melihat kembali apa yang selama ini dianggap sebagai limbah.

Bagikan:

Komentar (1)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. * wajib diisi

Semua Komentar (1)

Faris Reza
18 Aug 2026, 16:15 WIB

Mantap