Program “Aku Siswa Beretika”: Cara Seru Mahasiswa KKN Undip Ajarkan Etika Sosial dan Literasi Digital Sejak Dini
Bagi anak-anak, terutama kalangan anak usia dasar, sekolah menjadi tempat mereka bertemu teman, membangun pertemanan, bermain, dan belajar memahami satu sama lain. Namun, dalam proses tersebut, tidak semua interaksi berjalan dengan baik. Candaan yang dianggap biasa oleh satu anak bisa saja menjadi sesuatu yang menyakitkan bagi anak lainnya. Ditambah lagi, kehadiran gawai membuat hubungan pertemanan anak kini akan terus berlanjut bahkan ketika jam sekolah telah usai. Ejekan, komentar, maupun perilaku tidak menyenangkan dapat terbawa hingga ke ruang digital.
Kondisi inilah yang menjadi perhatian Tim KKN-T IDBU 69 Universitas Diponegoro melalui program “Aku Siswa Beretika” yang dilaksanakan bersama siswa-siswi SD Negeri 01 Tumbrep pada 03/08/2026, Senin. Program ini mengajak anak-anak memahami bagaimana seharusnya mereka memperlakukan teman dan menggunakan gawai secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui program “Aku Siswa Beretika”, Tim KKN-T IDBU 69 Universitas Diponegoro berupaya menanamkan kebiasaan sederhana yang dapat dipraktikkan anak setiap hari, seperti menghargai teman, membantu teman, menjaga perkataan, meminta bantuan ketika menghadapi masalah, serta menggunakan gawai dengan bijak. Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan karena kemampuan anak untuk berinteraksi, berempati, dan mengambil keputusan juga turut menentukan bagaimana mereka tumbuh di tengah lingkungan sosial dan perkembangan teknologi yang semakin cepat.
Dalam pelaksanaannya, penyampaian materi dilakukan secara interaktif agar siswa tidak hanya menjadi penerima informasi secara pasif, tetapi juga terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Tim KKN mengajak siswa berdiskusi langsung, memberikan contoh-contoh situasi yang dekat dengan keseharian mereka, seperti kejadian di kelas atau di grup chat pertemanan, serta mengadakan permainan sederhana untuk melatih siswa menentukan mana tindakan yang tepat dan mana yang tidak tepat, baik dalam konteks pertemanan maupun penggunaan gawai. Melalui pendekatan ini, siswa diajak belajar mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai etika sekaligus melatih keberanian menyampaikan pendapat secara aktif di depan teman-temannya.