Hadapi Tren TikTok, Seniman Batang Diminta Tetap Jaga Akar Budaya
Hadapi Tren TikTok, Seniman Batang Diminta Tetap Jaga Akar Budaya
BATANG – Pelaku seni pertunjukan di Kabupaten Batang didorong untuk terus mengembangkan kreativitas dan menciptakan karya tari yang inovatif tanpa meninggalkan akar budaya lokal.
Penguatan ide, riset artistik, hingga kolaborasi antara gerakan tradisional dan modern menjadi materi utama dalam Workshop Harmoni Seni Pertunjukan yang digelar di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang, Jumat-Sabtu (6-7/11/2026).
Kegiatan yang diselenggarakan Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif melalui Direktorat Seni Rupa dan Seni Pertunjukan, Deputi Bidang Kreativitas Budaya dan Desain Ekraf tersebut diikuti sekitar 50 pelaku kreatif dari subsektor seni pertunjukan.
Workshop ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas seniman melalui penguatan keterampilan artistik, eksplorasi potensi seni budaya lokal, serta pengembangan kolaborasi antarpelaku kreatif.
Salah satu narasumber, seniman tari sekaligus koreografer, Ressa Rizky Mutiara, menekankan pentingnya gagasan dan riset dalam proses penciptaan sebuah karya tari.
Menurutnya, tari tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengolah gerakan, tetapi juga bagaimana sebuah karya mampu menyampaikan pesan dan memiliki identitas artistik.
"Perkembangan tari saat ini sebenarnya lebih ke ide atau gagasan. Apa yang mau disampaikan melalui karya tari tersebut, dan bagaimana mengembangkan gagasan itu hingga akhirnya menjadi identitas suatu karya atau identitas koreografer," kata Resa kepada Tribunjateng, Jumat (6/11/2026).
Dia menjelaskan, riset menjadi bagian penting dalam proses penciptaan karya.
Melalui riset, koreografer dapat menggali inspirasi, memperkaya gerakan, sekaligus menemukan kedalaman makna yang ingin disampaikan kepada penonton.
Menurutnya, ketika seorang penari atau koreografer mengalami kebuntuan ide maupun gerakan, hal pertama yang perlu dievaluasi adalah sejauh mana proses riset telah dilakukan.
"Riset itu bagian terpenting. Ketika koreografer hanya berpikir gerak, tetapi bisa dibaca ulang melalui riset, bagaimana riset ini terus berkembang untuk memperkaya karya tari tersebut," jelasnya.
Resa juga menilai perkembangan media sosial, termasuk tren tarian di TikTok, tidak serta-merta menjadi ancaman bagi seni tari tradisional.
Justru, media digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana promosi untuk memperkenalkan karya kepada masyarakat yang lebih luas.
Namun, ia mengingatkan bahwa tarian yang ditampilkan di media sosial memiliki karakter dan segmen berbeda dengan pertunjukan tari secara utuh.
"Kalau dibilang merusak, enggak. Memang eranya sudah serba media sosial. Justru bagaimana kita belajar membuat tarian ini dikenal melalui media sosial, tetapi tidak memperlihatkan bahwa itu merupakan karya yang utuh. Bagaimana caranya penonton penasaran dengan karya-karya tersebut," tuturnya.
Pandangan serupa disampaikan Suningsih, pengelola Sanggar Putra Budaya.
Dia menilai perkembangan tren tarian modern perlu disikapi secara kreatif agar tetap dapat menarik minat generasi muda tanpa menghilangkan kecintaan terhadap budaya sendiri.
Menurutnya, anak-anak saat ini cenderung tertarik dengan tarian populer yang banyak beredar di media sosial.
Karena itu, sanggar seni memiliki peran penting sebagai ruang pendidikan sekaligus penjaga keberlangsungan tradisi.
"Anak-anak sekarang cenderung suka joget-joget seperti di TikTok. Tetapi kami sebagai pagar tradisi harus kuat merengkuh anak-anak agar lebih mencintai budaya sendiri, supaya tidak terlindas budaya asing. Boleh belajar budaya asing, tetapi jangan sampai mendominasi. Tradisi harus lebih kuat," ujarnya.
Meski demikian, Suningsih tidak menutup diri terhadap perkembangan budaya populer.
Ia mencontohkan penggarapan flashmob dalam kegiatan Wanora Alas Roban yang memadukan gerakan populer dari TikTok dengan gerakan tari tradisional.
Perpaduan tersebut dinilai mampu menghadirkan pertunjukan yang lebih menarik sekaligus menjadi pendekatan untuk mendekatkan seni tradisi kepada generasi muda.
Sementara itu, dari sisi pengembangan sumber daya manusia, ia berharap workshop semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Terlebih, ilmu dan pengalaman yang diperoleh peserta nantinya dapat diteruskan kepada anak didik di sanggar masing-masing.
Ia berharap kegiatan serupa dapat menjadi agenda rutin, bahkan diselenggarakan beberapa bulan sekali untuk mendukung kemajuan sanggar-sanggar seni di Kabupaten Batang.
Melalui workshop ini, penguatan seni pertunjukan tidak hanya diarahkan pada peningkatan kemampuan teknis penari, tetapi juga kemampuan menciptakan karya berdasarkan riset, mengembangkan identitas artistik, serta membangun jejaring kolaborasi.
Dengan demikian, potensi seni budaya lokal diharapkan dapat terus berkembang menjadi karya kreatif yang memiliki nilai artistik sekaligus peluang ekonomi, tanpa kehilangan karakter dan identitas budaya daerah.
"Sangat bangga ada kegiatan workshop seperti ini. Ilmu-ilmu yang belum kami ketahui bisa kami gali dari narasumber. Selanjutnya, insyaallah akan kami tularkan kepada peserta didik di sanggar," tutupnya.