Dari Watesalit Mendunia: Mengubah Tradisi Batik Menjadi Peluang Bisnis Bernilai Tinggi
BATANG – Industri batik lokal Kabupaten Batang membuktikan daya saingnya di tingkat global berkat hadirnya regenerasi pembatik muda. Maulida Muyasarah (23), perajin asal Kelurahan Watesalit, berhasil memasarkan batik tulis buatan tangannya hingga ke Singapura dan Belanda dengan harga mencapai Rp4 juta per lembar.
Prestasi Maulida kian mengkilap setelah memenangkan Kategori Artisan Batik dalam ajang Kenduri Batik di objek wisata Si Kembang Park, Blado. Produk unggulannya, "Gundukan Pohon Hayat Kontemporer", memadukan motif tradisional Rifaiyah dengan balutan desain kontemporer.
Menanggapi fenomena ini, Ketua Dekranasda Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz Kurniawan, menyoroti pentingnya perubahan pola pikir (mindset) di kalangan perajin muda. Menurutnya, perajin harus berani mengambil risiko untuk bertransformasi menjadi wirausahawan batik.
"Semakin besar risikonya, semakin tinggi return atau hasil yang didapat. Kami ingin membimbing perajin lokal agar tidak hanya menjadi buruh, melainkan pengusaha batik yang berani menembus pasar skala nasional maupun internasional," ujar Faelasufa saat meninjau kediaman Maulida.
Sebagai langkah nyata, Dekranasda Batang merencanakan program fasilitasi studi banding dan kunjungan pameran besar di kota-kota lintas daerah untuk memperluas wawasan para perajin lokal.