Kabar

KKN Posko 6 Kunjungi UMKM Jahe Seduh “Sari Alam” di Desa Kepuh, Usaha Herbal Lokal Tembus Pasar Semarang-Solo

InfoBatang
18 Feb 2026
11:43 WIB
118
KKN Posko 6 Kunjungi UMKM Jahe Seduh “Sari Alam” di Desa Kepuh, Usaha Herbal Lokal Tembus Pasar Semarang-Solo

Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Posko 6 mengunjungi tempat produksi jahe seduh milik Bu Titik yang berlokasi di Dusun Brajan, Desa Kepuh, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang, Rabu (4/2/2026).


Kunjungan ini dilakukan untuk melihat secara langsung proses pembuatan jahe seduh sekaligus mengenal lebih dekat usaha rumahan yang telah berkembang cukup lama di desa tersebut.


Bu Titik merupakan warga Subah yang sehari-hari bekerja sebagai guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Ia telah menjalankan usaha jahe seduh selama lebih dari sepuluh tahun. Usaha ini berawal dari membantu menjual produk milik adiknya. Namun karena sang adik semakin sibuk, Bu Titik akhirnya mencoba memproduksi sendiri jahe seduh hingga kini mampu dipasarkan secara mandiri.


“Awalnya saya hanya menjualkan produk adik. Karena adik sudah sibuk, akhirnya saya coba membuat sendiri dan Alhamdulillah bisa terus berjalan sampai sekarang,” ujar Bu Titik.


Produk jahe seduh tersebut dipasarkan dengan merek “Sari Alam” dan telah memiliki sertifikat halal dan Nomor Induk Berusaha (NIB). Sistem pemasaran dilakukan dengan cara dibawa langsung ke pasar dan melalui reseller dengan minimal pemesanan 10 kilogram. Saat ini, distribusi produk jahe seduh “Sari Alam” telah menjangkau wilayah Semarang dan Solo. 


Untuk produksi, Bu Titik menggunakan jahe emprit sebagai bahan utama dengan perbandingan satu kilogram jahe dan dua kilogram gula pasir. Jahe diproses dengan cara diblender, diperas, dan disaring, kemudian disangrai selama kurang lebih satu jam hingga kering. Setelah itu, hasil sangraian diayak, sementara bagian yang masih menggumpal dibubuk dan diayak kembali sebelum dikemas dalam plastik.


Proses produksi tidak dilakukan setiap hari, melainkan menyesuaikan waktu luang dan permintaan pasar. “Saya tidak produksi setiap hari, biasanya hanya kalau ada pesanan. Harapannya ke depan usaha jahe seduh ini bisa lebih berkembang, produksinya lebih rutin, dan pemasarannya bisa menjangkau lebih banyak daerah,” tuturnya. Meski harga jahe kini naik hingga sekitar Rp40.000 per kilogram, Bu Titik tetap mempertahankan harga produknya seperti biasa.


Produk jahe seduh “Sari Alam” dijual dengan harga Rp25.000 untuk kemasan 500 gram dan Rp10.000 untuk kemasan 200 gram. Satu sendok makan bubuk jahe cukup untuk satu gelas minuman jahe hangat. Produk ini memiliki masa simpan hingga dua tahun. Selain itu, ampas jahe sisa produksi dimanfaatkan sebagai pakan ayam, sehingga limbah produksi tetap bernilai guna.


Melalui kunjungan ini, mahasiswa KKN Posko 6 memperoleh gambaran langsung mengenai proses produksi dan pengelolaan UMKM jahe seduh sebagai salah satu bentuk usaha olahan herbal berbasis potensi lokal yang memiliki peluang untuk terus dikembangkan.



Bagikan:

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. * wajib diisi

Semua Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!