Pemerintahan

Transformasi Kampung Duyu: Dari Lokasi Bencana Jadi Sentra Agrowisata Anggur yang Menjanjikan

InfoBatang
26 Jan 2026
11:48 WIB
64
Transformasi Kampung Duyu: Dari Lokasi Bencana Jadi Sentra Agrowisata Anggur yang Menjanjikan

PALU – Kebun Anggur di Desa Duyu, yang kini dikenal sebagai Kampung Reforma Agraria Duyu Bangkit, menjadi potret sukses pelaksanaan Reforma Agraria di Sulawesi Tengah. Kawasan yang sempat luluh lantah akibat bencana 2018 tersebut, kini berhasil bertransformasi menjadi sentra pertanian produktif sekaligus destinasi agrowisata unggulan bagi warga Kota Palu.


Melalui Gugus Tugas Reforma Agraria (GTRA) Kota Palu yang dikoordinasikan oleh Kementerian ATR/BPN, program ini mengintegrasikan penataan aset dan akses bagi masyarakat penyintas bencana sejak 2021. Pendekatan lintas sektor ini terbukti mampu mengubah zona rawan menjadi kawasan ekonomi berbasis pertanian modern.


Perencana Ahli Muda Dinas Pertanian sekaligus anggota GTRA Kota Palu, Sutikno Teguh Asparianto, mengungkapkan kebanggaannya atas kemajuan ekonomi warga.


"Peningkatan pendapatan para penyintas bencana di sini sangat menonjol. Sebagai koordinator, BPN memastikan semua program dari Pemerintah Kota berjalan selaras dan tepat sasaran," jelas Sutikno saat ditemui di lokasi.


Dampak kesejahteraan ini dirasakan langsung oleh warga, salah satunya Ibrahim. Meski hanya menanam 20 pohon anggur di lahan terbatas, ia kini mampu memanen tiga kali dalam setahun.


"Bersyukur sekali, setiap panen bisa menambah penghasilan sekitar empat juta rupiah. Kampung Duyu sekarang terkenal sebagai Kampung Anggur, warung saya pun jadi lebih ramai," ungkap Ibrahim.


Ia mengaku kesuksesan ini bermula dari inisiatif pribadi yang didukung oleh bimbingan Ketua Petani Kampung Anggur Duyu Bangkit serta bantuan bibit awal. Kisah Ibrahim adalah satu dari sekian banyak bukti bahwa pemberian akses lahan yang dibarengi dengan pendampingan mampu menciptakan kemandirian ekonomi.


Keberhasilan Kampung Duyu Bangkit membuktikan bahwa Reforma Agraria bukan sekadar urusan legalitas lahan, melainkan instrumen nyata untuk memulihkan kehidupan masyarakat pascabencana. Sinergi antara pemerintah daerah dan Kementerian ATR/BPN dalam forum GTRA telah menciptakan ekosistem wilayah yang produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

Bagikan:

Komentar (0)

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. * wajib diisi

Semua Komentar (0)

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!